Bangladesh Tuai Kontroversi Usai Relokasi Yang Dilakukan Untuk Rohingya
Krisis yang menimpa warga Rohingnya belum juga berakhir. Usai mendapat perlakuan kejam di Myanmar, ribuan kaum minoritas ini diketahui mengungsi ke Bangladesh.
Namun, baru-baru ini pemerintahan Bangladesh justru membuat rencana yang kontroversial. Mereka berencana untuk merelokasi pengungsi Rohingya ke pulau terpencil.
Bahkan berdasarkan kabar terbaru, pemerintah Bangladesh telah membentuk komite yang terdiri dari pejabat-pejabat distrik pesisir. Mereka diinstruksikan untuk mencatat dan merelokasi warga Myanmar yang tak memiliki identitas ke Pulau Thengar Char yang berlokasi di teluk Bengala.
"Komite akan membantu pemindahan pengungsi baik yang terdaftar ataupun tidak dari Myanmar ke Thengar Char dekat pulau Hatiya di Distrik Noakhali," bunyi pernyataan pemerintah Bangladesh beberapa waktu lalu.
Namun, sejumlah pihak menilai jika pemindahan itu justru semakin memperburuk dan menyengsarakan kehidupan pengungsi Rohingnya. Pasalnya pulau Thengar Char tak bisa dijangkau jika gelombang pasang dan merupakan lokasi para perompak.
Pihak pemerintahan Bangladesh sendiri beralasan jika mereka tidak memiliki sumber daya untuk menampung pengungsi sehingga memutuskan untuk relokasi. Namun ada dugaan jika pemindahan ini dipicu gelombang turis yang akan datang.
Seperti diketahui, lokasi pengungsian Rohingya di Cox Bazar merupakan lokasi wisata pantai tidak terputus dan terpanjang di dunia. Pemerintah Bangladesh tampaknya khawatir keberadaan pengungsi akan mengganggu sektor pariwisata dan mempengaruhi jumlah turis.
Sementara itu, berdasarkan data yang ada diperkirakan ada sekitar 232.000 warga Rohingya yang tinggal di berbagai kamp pengungsian di Bangladesh. Mereka harus bertahan dengan fasilitas buruk penampungan setelah aparat militer Myanmar melakukan pengrusakan, hingga pembunuhan di tempat tinggal mereka di Rakhine, Myanmar pada Oktober 2016 lalu.

No comments: